Sibuk beragama lupa berTuhan

Sibuk beragama lupa berTuhan

Saya tidak tahu bagaimana penulisan yang benar menurut standar penulisan dalam bahasa Indonesia, EYD ataukah EBI, atau  apa istilahnya sekarang. Untuk kata bertuhan, apakah dipisah pakai tanda strip kemudian huruf t  harus kapital, langsung disambung dengan huruf t kapital atau disambung saja dengan huruf t tetap kecil. Sebenarnya yang terpenting dari semua itu  adalah bisa dibacanya maksud tulisan tersebut. Seperti halnya Bilal yang cedal dalam berucap tetapi luar biasa dalam bersyahadat.

Bilal, kalau menurut standar  pengucapan dalam bahasa Arab beliau tidak tepat atau kurang memenuhi syarat,tetapi beliau luar biasa. Dahulu, mereka itu sudah benar-benar sadar tentang ketuhanan, baru mengucap syahadat. Beda dengan kita, agama kan sudah keturunan sehingga kebanyakan tidak mencari. Kita ini sebenarnya sudah bersyahadat atau baru mengucap syahadat.

Sering kali kita membuat bermacam-macam kecemasan, padahal kita sering mengaku bertuhan, kita serahkan semuanya kepada Tuhan. Terkadang kita terlalu tinggi membahas tentang ketuhanan, padahal sebenarnya kita masih kelas jasad. Berapa persen dalam kehidupan kita sehari-hari yang benar-benar pasrah kepada Allah. Kita berdalih, kalau kita pasrah itu malah kemudian timbul rasa malas. Padahal sebenarnya orang yang percaya adanya Allah malah tidak akan menjadi pribadi yang pemalas. Jika yang ada malah kemalasan berarti tidak sempurna dalam bersyahadat.

Baca juga  Ra tegelan malah ditegeli

Mengapa ketika belum ada bermacam-macam kitab, pewahyuan belum banyak dan Al Quran belum selesai diturunkan, Bilal sudah sampai pada puncak kepasrahan, keikhlasan yang tak akan pernah kita samai.Bilal, pernah mengalami penyiksaan hingga ditindih batu besar di atas dadanya, tetapi tetap teguh imannya dan tidak mau berpindah keyakinan. Kita sering terjebak dengan materi ilmu yang terlalu ke kitab. Mulai dari penyebutan alfatihah saja dipermasalahkan. Kalau kita belajar tapi hakekatnya tidak dapat ataupun mengena terus bagaimana? Terkadang dalam hal dasarpun kita sering lolos.

Baca juga  Ra tegelan malah ditegeli

Kita sering sibuk debat di fiqih dan jarang masuk ke hikmah-hikmah, jarang belajar tentang keistiqomahan, konsistennya orang-orang  dalam berbuat kebaikan. Kita selalu terjebak pada tema-tema besar, pada madzhab yang berbeda dll. Satu ciri khas ilmu, dia akan menghasilkan perenungan. Fungsi ilmu itu menemukan  kesalahan diri sendiri bukan menunjuk kesalahan pihak lain. Kenyataannya seperti itulah kita, sibuk beragama lupa berTuhan.

Sharingkedia ÷