Menuhankan prasangka

Menuhankan prasangka

Sebagian dari kita berbuat/berreaksi hanya berdasarkan prasangka. Maksudnya, setelah mendapat satu ciri ataupun tanda langsung membuat kesimpulan dan meyakini itu adalah fakta peristiwa, padahal itu baru pendapat. Ketika kita mendapati satu tanda, sebaiknya kita mengumpulkan data yang berkaitan dengan hal tersebut, berikutnya kita bisa memperoleh kesimpulan. Setelah kita mempunyai kesimpulan, itupun belum tentu bahwa kesimpulan yang kita miliki itu adalah  kebenaran. Keyakinan akan sebuah kebenaran bukanlah kebenaran yang sejati sebelum diuji kebenarannya. Jangan sampai kita cuma mengandalkan prasangka  serta berdasarkan “jarene” kita menyimpulkan seseorang itu seperti apa.

Ini sebenarnya berlaku juga untuk hal yang berlawanan, misalnya kita selalu menilai bahwa orang yang itu orangnya baik, santun dan lain-lain, pasti dia bukan koruptor ataupun penjahat.  Justru bisa saja itu sebagai tameng untuk menutupi kebusukannya.  Suatu saat ketika terungkap bahwa orang tersebut adalah penjahat, biasanya banyak yang kaget karena tidak berpikir kalau orang tersebut bisa melakukan kejahatan. Kita terbiasa melihat kemasan yang menarik padahal isinya tak selalu semenarik kemasannya, sehingga kita mudah tertipu.

Baca juga  Berfilsafat
Sharingkedia ÷