Dipikir karo mlaku

Disadari atau tidak, ternyata bangsa Jawa ini penuh dengan filosofi. Bahkan dari semua kalangan , semua memiliki filosofi dalam bertindak ataupun dalam berperilaku dalam keseharian. Misalnya, “alon-alon waton kelakon” maksudnya tidak usah terburu-buru, pelan-pelan saja nanti juga terlaksana. Ada juga “Sapa gawe bakale nganggo”, bahwa siapa yang berbuat nanti dia juga akan menikmati hasilnya, baik ataupun buruk. Itu tadi contoh saja, yang sudah umum di masyarakat.

95C / Pixabay (gambar ilustrasi)

Saya tertarik dengan kalimat ataupun frasa “dipikir karo mlaku” yang jika diartikan secara sederhana adalah dipikir sambil jalan. Seolah-olah sangat sederhana ungkapan tersebut, tetapi memiliki makna yang cukup dalam. Yang saya tangkap adalah kita tidak usah risau, galau , bingung dan semacamnya ketika menghadapi masalah. Kita bisa berpikir jernih, logis dan tak banyak main perasaan. Kita fokus berpikir pada hal yang benar-benar kita butuhkan saat ini. Untuk urusan yang besok kita pikirkan besok, bertahap, kita hadapi seiring berjalannya waktu. Ya, dipikir karo mlaku.
Saya kemudian berpikir ternyata konsep pemikiran ini hampir mirip dengan filsafat stoa, sebuah aliran filsafat Yunani Kuno. Di stoa tidak memakai “hati’, jadi tidak akan ada rasa yang beraneka macam tersebut. Mereka murni menggunakan akal, dengan logika kemudian terus berproses dan pasrah menerima keadaannya.

Stoa, kalau dikaitkan dengan agama, nanti akan ketemu dengan beberapa istilah. Misalnya sabar, yaitu tidak terburu-buru. Ikhtiar, yang penting adalah terus berusaha. Ikhlas & tawakal, setelah selesai dalam usaha kemudian menerima keadaan dan berserah diri. Walaupun sebenarnya mereka tidak memakai istilah-istilah tersebut,cuma saya saja yang mengkait-kaitkannya.

Demikian sedikit uneg-uneg dari saya,semoga bermanfaat. Tetap berpikir logis dan jangan baperan!

Artikel terkait

Post Author: Ateam Chartam

manusia biasa

Tinggalkan Balasan