Darurat air

Menurut tata bahasa, yang benar itu “darurat kekeringan” ataukah “darurat air”? Di media massa banyak tulisan yang menggunakan gabungan kata “darurat kekeringan” walaupun secara pribadi saya lebih setuju dengan “darurat air”, itu menurut logika pemikiran saya. Tetapi ini kan demokrasi, hal-hal yang mayoritas adalah yang menang atau yang benar. Contoh lain adalah “air putih” ataukah “air bening”? Sebenarnya yang sering kita sebut sebagai “air putih” adalah “ air bening”, tetapi pada kenyataannya sudah umum dipakai dan tidak penting dipermasalahkan. Baiklah, itu sedikit saja tentang tata bahasa dan hal-hal yang mungkin salah kaprah.

_Marion / Pixabay

Bulan September hampir berakhir, kita melihat kenyataan bahwa musim penghujan belum datang. Akibatnya terjadi kekeringan di mana-mana. Hal ini jelas berpengaruh dalam kehidupan masyarakat. Darurat air untuk kebutuhan sehari-hari karena sumber air yang biasa digunakan sudah semakin surut. Biasanya kalau di kampung ada beberapa sumur yang tetap eksis, airnya masih tetap cukup dan layak digunakan. Sumur semacam inilah yang menjadi andalan ketika musim kemarau. Konon, sumur tua semacam ini dahulu dibuat dengan disertai tikarat ataupun “laku”. Semua bisa berdoa kepada Gusti dengan caranya masing-masing, tidak masalah. Dalam hal pertanian, banyak lahan yang tidak bisa digarap dan dibiarkan saja, menjadi permandangan yang umum.

Dari susahnya mendapatkan air serta kemarau yang panjang ,kita bisa belajar. Mungkin ini cara Tuhan berdialektika, bagaimana reaksi manusia menghadapinya. Dalam beberapa tahun terakhir suhu bumi semakin panas, mungkin juga semacam isyarat. Bisa jadi keadaan bumi yang seperti ini karena perbuatan manusia yang rakus, yang mengekplorasi alam tanpa memperhitungkan keseimbangan ekosistem. Dari kekurangan air, kemudian kekurangan pangan, ini yang menjadi masalah. Keterbatasan air dibanding dengan jumlah penggunanya ,kebutuhan tidak tercukupi, bisa terjadi rebutan. Kalau kita perhatikan, perang-perang yang terjadi sebenarnya adalah juga dalam rangka rebutan pangan.

Yang perlu kita perhatikan adalah sikap kita dan keluarga kita dalam menghadapi keadaan alam tersebut. Selain kita harus memiliki ketahanan fisik, yang juga penting adalah ketahanan mental. Jangan menjadi manusia yang ringkih.

Artikel terkait

Post Author: Ateam Chartam

manusia biasa

Tinggalkan Balasan